Warning: session_start(): open(/home/beritaindo/public_html/src/var/sessions/sess_5f1bab30403dd201dc7043c1d48109ab, O_RDWR) failed: No space left on device (28) in /home/beritaindo/public_html/src/bootstrap.php on line 59

Warning: session_start(): Failed to read session data: files (path: /home/beritaindo/public_html/src/var/sessions) in /home/beritaindo/public_html/src/bootstrap.php on line 59
Jelang Ramadan, Umat Islam Denpasar Nyekar Makam Leluhur - Segar News

Jelang Ramadan, Umat Islam Denpasar Nyekar Makam Leluhur

2 hours ago 1
ARTICLE AD BOX
Sejak Kamis (27/2/2025) pagi, pemakaman yang terletak di Jalan Maruti Nomor 13 di Kampung Jawa, Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja tersebut sudah ramai dikunjungi umat Islam dari Denpasar dan sekitarnya. Ayah, ibu, anak-anak, dan cucu, tidak luput menjalankan tradisi sebelum Ramadan ini.

Rumput yang tinggi di atas makam dipotong, nisan yang kotor dibersihkan, tidak lupa disiram wewangian, dan kembang. Di saat bersamaan, para peziarah mulai khusyuk menundukkan kepala sembari mengirim doa kepada sanak keluarga yang telah mendahului. Air mata pun tidak kuasa tertahan.


Bernam Febrian, 46, seorang peziarah menuturkan, ziarah makam sudah menjadi tradisi yang dilakukan umat Islam menjelang Ramadhan. Kata pria asal Banjar Tegal Buah, Desa Padangsambian Klod, Denpasar ini, ziarah makam atau disebut pula tradisi nyekar ini sebagai cara mempertebal keimanan.

“Kami mendoakan keluarga, terutama orangtua. Ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kami juga akan kembali ke sini. Sehingga, ibadah hendaknya diperbanyak karena hidup di dunia itu tidak lama,” ujar Bernam yang tampak berkaca-kaca usai mengirim doa untuk mendiang kedua orangtuanya.

Kata Bernam, setiap melaksanakan ziarah makam atau tradisi nyekar ini, ia selalu mengajak kedua putranya. Hal ini untuk mendidik mereka sedari belia agar selalu mengingat leluhur, sama seperti yang diajarkan mendiang orangtuanya ketika Bernam masih bujang.

“Sebagai orangtua saya juga mengajarkan anak-anak saya untuk selalu mengingat leluhur, kakek dan nenek mereka yang sudah tiada,” imbuh Bernam yang lahir dan besar di Denpasar ini.

Ziarah makam menjelang Ramadan dinilai sedikit berbeda secara spiritual oleh Bernam. Kata dia, Ramadan adalah bulan suci, penuh berkah, dan pengampunan. Sehingga, ada rasa yang afdol ketika mendoakan leluhur dekat-dekat bulan menunaikan ibadah puasa.

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Muslim Wanasari Maruti Tiga Belas, Achmad Tosan, menjelaskan bahwa puncak tradisi nyekar biasanya H-1 Ramadhan yakni Jumat (28/2/2025). Ini dengan asumsi pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1446 Hijriah, Sabtu (1/1/2025) ini.

“Nyekar ini adalah tradisi, budaya yang baik, yang dilakukan turun temurun. Di Kampung Jawa sendiri tradisi ini sudah mulai dilakukan H-5 dan puncaknya H-1 Ramadan,” ungkap Tosan ketika ditemui, Kamis petang.

Yang dimakamkan di Pemakaman Muslim Wanasari tidak saja umat Islam dari Kampung Jawa. Almarhum/almarhumah dari berbagai wilayah di Denpasar dan sekitarnya juga dimakamkan di sini, termasuk umat dari Kuta, Kuta Utara, dan Mengwi di Badung.

Nisan di Pemakaman Muslim Wanasari diperkirakan berjumlah ribuan dan jutaan jenazah telah dimakamkan di pemakaman tua ini. Dalam satu liang lahat rata-rata menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lima almarhum/almarhumah. Kata Tosan, nisan tertua yang pernah dilihat bertarikh 1811 Masehi.

“Biasanya satu keluarga itu ditumpuk dalam satu liang lahat secara zigzag. Minimal usia makam dua tahun baru berani ditumpuk. Ini karena selain keterbatasan lahan, dari sisi keluarga juga mau dan tidak keberatan,” imbuh Tosan.

Tosan mengungkapkan bahwa ketika orang yang hidup mendoakan leluhur yang sudah wafat, doa itu akan sampai ke leluhur entah itu orangtua atau sanak keluarga yang sudah wafat. Asalkan, doa tersebut tidak bersifat syirik yang menduakan Allah SWT.

“Doakanlah agar yang wafat diringankan dosanya, diringankan siksa kuburnya. Seperti itu saja permintaannya, doanya,” tandas Tosan. *rat
Read Entire Article